Di balik derasnya air terjun yang mengguyur dari ketinggian, Leena berdiri di atas batu datar yang licin, sepenuhnya tenggelam dalam meditasi. Gemuruh air yang menggema tak mampu mengusik ketenangannya, bahkan hawa dingin yang dapat menusuk tulang orang biasa tak sanggup menyentuh kesadarannya yang terpusat. Seluruh pakaian di tubuhnya telah lenyap terbakar saat Qi api spiritual dalam tubuhnya keluar terpancar, namun ia tetap diam, seolah tubuhnya telah lebur menjadi satu dengan alam.

Di dalam lautan kesadarannya, pemandangan gelap yang biasanya ia temui kini berganti dengan hamparan putih bersih yang membentang tanpa batas. Udara di sana sunyi namun menenangkan, seperti dunia lain yang belum tersentuh oleh penderitaan. Di sisi lain hamparan itu, sosok wanita berambut merah menyala, mengenakan gaun panjang yang tampak terbuat dari cahaya dan bara api melayang tenang, wajahnya cantik bagaikan lukisan dewa, sorot matanya mengandung keagungan seorang abadi.

"Leena, lautan kesadaranmu sudah mulai terbentuk dengan sempurna. Aku tidak mengira kau mampu memperluasnya secepat ini." Suara Yan Ruyan lembut, namun mengandung wibawa. Ia melangkah pelan di udara, gaunnya bergoyang ringan, seolah tak terikat oleh hukum dunia fana."Dantianmu juga sudah siap. Setelah ini kamu bisa mulai menyerap qi spiritual yang ada di dunia kecil ini melalui akar spiritualmu dan memenuhi dantianmu."

Leena membuka mata batinnya, menatap Yan Ruyan dengan rasa hormat. "Terima kasih, Dewi. Semua ini berkat bimbinganmu... tapi aku masih bingung. Bukankah duia kecil ini sebelumnya telah dicemari oleh energi iblis? Mengapa Qi spiritualnya kini terasa sangat murni dan padat?"

Yan Ruyan tersenyum samar, lalu memandangi hamparan putih di sekitar mereka. "Sepertinya kekasihmu telah melakukan sesuatu yang mengubah keadaan dunia kecil ini. Tapi ada yang membuatku penasaran... Gerakan kekasihmu saat bertarung tidak terlalu mencerminkan pemahaman terhadap kultivasi, bahkan... saat kalian bersama, aku merasakan ia tidak pernah memasuki lautan kesadarannya sendiri. Apakah dia melatih kekuatan khusus penguatan tubuh fisik? kekuatan fisiknya sangat luar biasa kuat."

Leena mengangguk pelan, lalu menunduk. Suaranya tenang, namun matanya mengandung kegelisahan yang dalam. "Lynx... dia memang tidak seperti kultivator lainnya. Dia kuat bukan karena berlatih kultivasi, tetapi karena secara kebetulan, dia mendapatkan warisan kekuatan hasil penelitian dari seseorang di dimensi lain, dunia yang kita datangi untuk menolong Lala. Selain itu dia juga memperoleh warisan ingatan berbagai teknik dari seorang kultivator senior di tingkat immortal, tetapi Lynx hanya belajar hal-hal yang benar-benar ia butuhkan. Itu sebabnya tingkat kultivasinya masih rendah."

Leena tidak ingin menjelaskan secara detail atau menjelaskan mengenai profesor Milo, ayahnya Lala. Dia tidak ingin terjadi masalah baru karena mengungkapkan detail rahasia Lynx.

Yan Ruyan mengangkat alisnya. Cahaya di matanya bergetar lembut, menyimpan keterkejutan yang tak ia ucapkan. "Hasil penelitian?" Yan Ruyan terbayang pengalaman saat mereka di dimensi tersebut, para metahuman."Bukankah di dunia itu juga ada manusia-manusia kuat berkekuatan aneh namun tidak memiliki qi spiritual ? Orang-orang yang menyerang kalian? Apakah itu juga hasil penelitian?"

Leena tersenyum tipis. "Iya mereka juga hasil penelitian, disebut metahuman. Di dunia tersebut energi qi spiritual sangat lemah nyaris tidak ada, tetapi mereka memiliki sesuatu yang disebut teknologi. Meski manusia di sana tidak mampu berkultivasi dan terlihat lemah, namun mereka cerdas dalam menciptakan alat-alat yang mampu menggantikan kekuatan alami. Dan kekuatan yang jatuh ke tangan Lynx... adalah satu-satunya hasil penelitian yang tak bisa diulang kembali. Pembuatnya sudah meninggal, dan tidak ada lagi yang bisa meniru apa yang Lynx miliki."

Yan Ruyan kembali terdiam. Matanya menerawang jauh, mengingat kembali perjalanan Lynx dan Leena saat berpindah dari satu dimensi ke dimensi lain. Ia pernah melihat dunia yang udaranya sangat kotor penuh dengan manusia namun dipenuhi benda-benda aneh yang mampu terbang, terdapat manusia yang berbadan besi, mahluk-mahluk aneh mampu membuatnya berhalusinasi saat pemulihan diri didalam laut kesadaran Leena. Ia juga ingat melihat manusia tanpa dantian, namun mampu bergerak secepat kilat dengan benda kecil yang mereka sebut senjata.

"Dimensi itu... terlalu luas." batin Yan Ruyan perlahan. "Bagi dunia surgawi, keberadaan mereka tidak berarti apa-apa. Tapi bagi dunia ini... jika mereka datang, manusia biasa tidak akan memiliki harapan untuk bertahan melawan senjata aneh mereka. Kalaupun aku  ingin menghancurkan seluruh dunia mereka agar tidak membahayakan tempat ini... dunia lain terlalu besar, terlalu bercabang... Biarlah, alam yang akan menyeleksi siapa yang mampu bertahan dan tidak seandainya hal tersebut terjadi."

Yan Ruyan mengembuskan napas panjang. Di tengah lautan kesadaran Leena yang tenang, Yan Ruyan merasa dunia yang dikenalinya menjadi lebih rumit dari sekadar pertarungan antar ranah kultivasi.

"Leena, mulailah menyerap energi spiritual. Aku akan kembali meditasi untuk memulihkan kekuatanku."

Leena menatap Yan Ruyan sebelum akhirnya dia mengangguk dan kembali memejamkan mata untuk kembali ke dunia nyata.

"Lynx, Jika aku ingin berdiri sejajar denganmu... aku harus lebih meningkatkan kekuatanku." Batin Leena sambil merasakan qi spiritual yang ada di sekitarnya.

Leena perlahan membuka matanya. Dalam sekejap, udara di sekitarnya berubah. Qi spiritual yang memenuhi dunia kecil itu mulai bergetar, lalu mengalir deras menuju tubuhnya. Dengan akar spiritual khusus yang dimilikinya, ia mampu menyerap energi layaknya selang raksasa yang tak memiliki ujung. Riak-riak energi di sekeliling tubuhnya berputar seperti pusaran besar, menghisap Qi dari segala penjuru.

Tubuhnya memanas, kulitnya tampak bersinar dengan semburat merah keemasan. Api spiritual membungkus tubuhnya, menjalar lembut seperti selendang dewa. Meditasi telah terhenti, namun penyerapan masih berlangsung. Lautan Qi spiritual di dunia kecil itu berkurang drastis dalam waktu singkat, seakan ditelan oleh kekuatan misterius yang tak tertahankan.

Sementara itu, Lynx yang tengah bersiap meninggalkan dunia kecil bersama Lala berhenti sejenak. Alisnya mengernyit, matanya menatap ke langit-langit ruang dimensi.

"Aneh... kenapa tiba-tiba Qi spiritualnya menipis drastis?"

Lynx segera merasakan dengan persepsinya untuk melihat arah qi spiritual mengalir. "Ini bukankah ke arah Leena? Aku harus memeriksanya."

Lala yang berada tidak jauh darinya tengah menyiapkan peralatan-peralatan yang akan dibawanya, namun baru menyadari keanehan setelah Lynx menghilang dari tempatnya berdiri.

"Hah?! Lynx?! Ke mana dia pergi?! Apa yang terjadi?"

Dalam satu kedipan mata, tubuh Lynx telah lenyap. Ia muncul kembali di bawah air terjun, tepat di hadapan Leena. Mata Lynx melebar saat melihat pemandangan yang membekas kuat di kepalanya. Sosok Leena berdiri di tengah pusaran api spiritual, seluruh tubuhnya dikelilingi oleh percikan Qi yang menyala lembut. Rambut panjangnya beterbangan, matanya terpejam, dan wajahnya memancarkan ketenangan seorang dewi.

Tubuh Leena tidak tertutup apapun. Namun bukannya merasa canggung, Lynx justru terdiam, terpaku oleh pancaran keindahan yang sulit digambarkan dengan kata. Lynx memperhatikan bagaimana Qi spiritual di sekitarnya yang tersisa bergerak tersedot ke tubuh Leena. Aura energi Leena kini terlihat semakin menguat, menggetarkan dimensi dunia kecil.

Ledakan energi terdengar pelan. Sekujur tubuh Leena bersinar, lalu meledak dalam cahaya keperakan yang membentuk pusaran vertikal. Dalam sekejap, seluruh Qi di dunia kecil seolah disapu bersih, hanya tersisa sedikit untuk mempertahankan dimensi tersebut.

Tubuh Leena melayang perlahan ke atas, kemudian jatuh kembali ke atas batu datar di bawah air terjun. Saat matanya terbuka, kilatan cahaya ungu keperakan terlihat dalam maniknya. Aura tubuhnya telah berubah. Tidak ada lagi tekanan dari seorang grandmaster, melainkan kekuatan dari seorang kultivator ranah immortal tahap awal.

Sementara itu awan hitam berkumpul di luar dimensi kecil, menggulung dengan kecepatan tinggi seolah menyambut kelahiran kekuatan baru. Petir halus berkilat di balik langit semu, dan tanah pun bergetar lembut. Para kultivator hingga kejauhan memandang ke titik yang sama,"Petir kesengsaraan? Sepertinya ada seseorang yang naik lagi ke ranah Immortal. Sudah lama hal ini terjadi."

Awan hitam semakin tebal dan berputar-putar diluar portal dimensi menunggu kemunculan Leena  seolah langit marah dan ingin menguji kelayakan Leena menjadi seorang Immortal.

